AeRohawK

Flying away…


Leave a comment

Sehat dari Bayi hingga Lansia dengan Susu

Menurut Lampert (1970) susu adalah hasil sekresi dari kelenjar mamae sapi  yang bebas dari kolostrum dan diambil dari hasil pemerahan satu atau lebih sapi yang sehat. Sehingga istilah susu khusus digunakan untuk mendefinisikan hasil sekresi dari sapi sedangkan untuk susu yang lainnya harus ditambahkan keterangan hewan apa yang menghasilkannya seperti susu kambing, susu domba, dan susu kuda.

Susu merupakan suatu produk yang sangat familiar dengan kehidupan kita sehari-hari karena produk ini sudah ada sejak kita masih sebagai bayi. Saat kita bayi maka ibu kita akan melakukan inisiasi menyusui dini dan saat itulah kita pertama kali berinteraksi dengan susu ibu.  Susu ibu merupakan susu yang paling sempurna untuk bayi manusia karena memiliki kadar protein whey dan laktosa yang tinggi, immunoglobulin, asam lemak esensial, enzim lipase, dan vitamin dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Dengan adanya zat-zat tersebut pada ASI maka bayi yang mendapatkan ASI ekslusif akan memiliki kondisi tubuh yang lebih sehat dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang minum susu formula selama 6 bulan pertama kehidupannya.

Setelah masa ASI ekslusif selesai maka barulah bayi kita bisa dikenalkan dengan susu formula sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI). Namun yang harus kita ingat, jika kita memberi susu formula pada anak maka kita harus sangat hati-hati dan jangan menggunakan dot karena dot sangat memanjakan bayi dengan tidak perlunya usaha untuk minum sehingga bila bayi telah minum menggunakan dot maka bayi akan sulit untuk minum ASI lagi, jadi lebih baik susu formula diberikan lewat sendok ataupun cangkir. MP ASI yang diberikan haruslah makanan yang sehat dan usahakan dibuat sendiri dari bahan makanan segar sehingga komposisinya lebih sehat dan akan memudahkan bayi untuk makan ketika sudah beranjak balita.

Ketika bayi telah beranjak balita (berusia lebih dari 2 tahun) maka segeralah disapih dan pada masa ini susu merupakan elemen yang penting untuk menjaga pertumbuhannya agar tetap baik terutama bagi balita yang sulit makan. Namun kita tetap harus berhati-hati karena bila balita mengkonsumsi susu lebih dari 473 ml (3-4 gelas) per hari maka balita dapat mengalami anemia karena susu yang berlebihan dapat melukai usus balita dan menghambat penyerapan zat besi. Untuk itu pola makan yang berimbang sangat penting untuk diterapkan sejak dini terutama sayur-sayuran yang sering ditinggalkan oleh bayi karena rasanya yang kurang enak dan belum dibiasakan sejak kecil sehingga balita dapat tumbuh dengan normal dan sehat.

Kemudian di masa anak-anak dan remaja maka susu berfungsi untuk komplementer bagi pertumbuhan. Hal ini dikarenakan kandungan kalsium pada susu terkadang berlebihan sehingga kurang bermanfaat bagi tubuh kecuali jika dikombinasikan dengan konsumsi fosfat yang cukup maka pertumbuhan tubuh akan sangat terbantu. Saran untuk produsen susu, sebaiknya melakukan inovasi dengan menambahkan kandungan fosfat pada susu sehingga perbandingan kalsium dan fosfat dapat mendekati 1:1 yang akan memperbaiki pembentukan tulang, selain itu ada baiknya jika dalam susu ditambahkan Fe karena kebanyakan wanita Indonesia juga memiliki kandungan Fe yang rendah yang membuat mereka rentan menderita anemia sehingga dengan penambahan Fe yang cukup maka prevalensi anemia dapat berkurang.

Pada dewasa dan orang tua, konsumsi susu dengan jumlah terbatas akan membantu mengurangi resiko terkena penyakit kardiovaskuler karena kandungan asam lemak omega 9 (cis 18:1) dalam susu yang relatif tinggi (25%).

Sebagai penutup, susu merupakan minuman yang menyehatkan dan halal karena telah disebutkan dalam berbagai hadits seperti HR at-Tirmidzy no 2790,  HR Muslim no 3783 dan 38786, dan dalam surat An Nahl (16:66), surat Al Mukminun (23:21), bahkan susu merupakan salah satu jenis minuman yang menjadi kenikmatan dalam surga seperti yang terdapat dalam surat Muhammad (47:15). Sehingga sudah jelas bahwa susu merupakan minuman yang lezat, sehat, dan bergizi bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dan sesuai.

Referensi:

  • Lampert, L.M. 1970. Modern dairy Products. Chemical Publishing Co., Inc: New York.
  • Katz, Solomon H. 2003. Encyclopedia of Food and Culture. Thomson Learning, Inc.: New York.
Advertisements