AeRohawK

Flying away…


Leave a comment

An Unforgettable Moment

Last month, I had a school holiday for 3 weeks. It started at June 21st 2010. The first week, I read two bestseller novels written by young man named Andrea Hirata. I read the first novel, Laskar Pelangi (Rainbow Troops) and the second, Sang Pemimpi (The Dreamer). From those novels, I learned a lot about friendships, dreams, loves and how to respect your parents. Those novels inspired me to be a better person for my future. At the second week, I followed a test to joined “DA” and slept in school for 3 days. At school, my friends and I worked together and walked around Surakarta for about 15 km at night. It was fun but also tired, and then all of us slept together in school hall. In the third week, I spent my holiday with a lot of meetings to prepared “Pradana”.
From my 3 weeks holiday, I also had an unforgettable moment. It was right before I slept in school, my friends and I who wanted to be the member of “DA”, had to follow an event from our seniors. At that time, we were so worried about what we had to do, because that event would be the final test for us. And that event held in 4 days.
The first and the second day, we had put together in school hall and introduced ourselves. We also had some simulations about how to work in “DA”. We was trained by our seniors to be the member of “DA”. We worked together to solved some problems and presented the solution to our seniors.
The third day, we had to come to Manahan. In there, we had a lot of fun. We played together and worked as team against the other team. From that day, we had a lot of experiences and learned how important friendship is.
The last day, we had some psychology tests in Manahan. We had a test about our commitment and we also got leadership training. Before that, we had to clean that place from falling leaves. At last, we had to solve an unpredictable problem and learned the message from evaluation.
All I got in that time made me to be better girl for my future.


Leave a comment

Berapa Kode Kunci Tas Papa?

“Ah,….?! Kenapa sih, Adik harus memasukkan tugas matematikaku ke dalam tas Papa?” gerutuku dalam hati sambil terus mencoba berbagai cara untuk membuka tas Papa. Sudah lebih dari puluhan cara yang ku lakukan tetapi tetap saja tidak berhasil. “Padahal hanya tiga digit huruf saja, tetapi kenapa sih masih belum bisa juga ?!” seruku kembali sembari mengingat kejadian tadi pagi dimana aku dan adik bertengkar hanya untuk memilih acara apa yang akan ditonton di televisi.
“Adik mau nonton film kartun!” seru adikku lantang begitu aku mengganti channel televisi ke siaran ulang konser yang tidak sempat aku tonton semalam. “Gak boleh, pokoknya Kakak yang menentukan karena Kakak yang lebih tua!” seruku tak mau kalah. “Tapi kan tugas seorang Kakak adalah untuk mengasuh dan menjaga adiknya!” sahut adikku dengan lantang, seakan ingin menyadarkanku bahwa seharusnya menjadi seorang kakak adalah sebuah tanggung jawab untuk menjaga dan mengasuh adiknya. “Gak bisa! Bukannya kemarin kamu sudah janji sama Papa dan Mama untuk menjadi anak yang patuh selama mereka pergi hari ini.” “Pokoknya gak bisa! Adik tetap mau nonton film kartun!” adikku yang keras kepala terus saja melawanku dengan kata-katanya yang seakan terus memojokkanku, “Kalau jadi Kakak harusnya yang ngemong sama adiknya!” seru Adikku dengan suara lantang, sampai akhirnya aku marah dan tidak sabar lagi, sehingga “PLAK” aku menampar adikku sendiri karena sebal. “Kalau jadi adik juga harusnya yang nurut dong sama kakaknya!” seruku marah sambil menuju kamar, meninggalkan adikku yang masih menangis pilu.
Di dalam kamar aku membaringkan diri dan saking kesalnya dengan Adikku aku pun memilih untuk langsung tidur. Siang harinya aku bangun untuk melaksanakan sholat dzuhur sambil melihat kalau-kalau adikku masih marah padaku atau tidak, kulihat ke dalam kamarnya ternyata dia masih tidur aku pun melanjutkan ke masjid untuk sholat berjamaah. Selama sholat aku terus berpikir kenapa aku marah dengan adikku, perasaan bersalahku semakin lama semakin besar sampai akhirnya aku memutuskan untuk meminta maaf kepada adikku. “Dik, maafkan aku ya tadi aku udah marahin kamu tanpa ada alasan yang jelas.” Kataku begitu tiba dipintu kamar Adikku, alangkah terkejutnya aku begitu mengetahui bahwa Adik tidak ada di kamarnya, aku pun segera menuju ke dapur ternyata adikku tidak ada, lalu aku melanjutkan ke kamar mandi ternyata adikku juga tidak ada di sana, aku pun kembali menuju ke kamarku, alangkah terkejutnya aku begitu mengetahui kalau adikku ada di kamarku dan sedang memporak-porandakan seluruh isi kamarku, segera aku suruh adikku keluar “Cepat keluar kamarku!” teriakku dengan lantang, entah kenapa tanpa basa-basi adikku langsung menuruti perintahku keluar dari kamar setelah itu aku langsung merapikan kamarku. Daripada menunggu besok lebih baik aku mulai menata buku sekarang juga, maka aku pun langsung menata buku untuk sekolah besok dan ternyata buku matematikaku tidak ada seketika itu juga ku langsung memanggil adikku. “Dika, dimana kamu sembunyika buku matematikaku!” “Jangan marah begitu, buku matematikamu aku simpan dulu” jawab Dika (adikku) dengan santainya. “Cepat kamu kembalikan buku itu, soalnya di situ terdapat PR yang belum sempat aku kerjakan!” “Salah sendiri, kenapa nggak kamu kerjakan tadi-tadi, sekarang kamu cari saja bukumu sendiri.” “Huh!!” dengusku kesal. “Untuk lebih mudah menemukannya aku beri Kakak bantuan, ada sebuah kotak ajaib yang bisa memberimu informasi baru setiap hari carilah maka akan kau temukan sesuatu yang berguna buatmu.””Jangan bercanda, kamu kira aku ini orang yang suka main teka-teki anak kecil seperti kamu!” kataku dengan dongkol. “Terserah Kakak, tapi kalau Kakak tidak menyelesaikan teka-teki ini, maka Kakak tidak akan menemukan buku Matematika Kakak.””Ya, sudah aku ikuti permainanmu,”kataku dengan agak kesal, segera setelah itu aku langsung berpikir kira-kira apa yang dimaksud kotak ajaib itu ya?” Lama ku berpikir, tapi lama kelamaan aku sadar bahwa yang dimaksud dengan kotak ajaib itu adalah televisi maka aku pun berlari ke depan televisi dan mencari apakah bukuku ada di sana dan ternyata,… “Dasar Dika, masak bukuku gak ada di sini?!” gerutuku dengan kesal sampai akhirnya aku menemukan kertas yang berbunyi seperti ini, Kotak ini kotak hipnotis bukan kotak ajaib, maka cobalah lagi. Dengan sedikit kesal aku mencari lagi dimana kira-kira kotak ajaib itu sampai akhirnya aku menemukan sebuah kotak yang dapat mengeluarkan suara seperti orang yang sedang membacakan berita. “Mungkin ini yang disebut kotak ajaib?” aku pun mendekati kotak itu dan ternyata benar dugaanku kalau itu adalah kotak ajaib (radio), dan begitu mengamati sekelilingnya aku menemukan selembar kertas bertuliskan, Selamat kamu sudah menemukan kotak ajaib itu, tetapi tugasmu belum selesai, kamu harus mencari kantong ajaib, “Kantong ajaib? Apa maksudnya? Mungkinkah yang dimaksud seperti kantong ajaib Doraemon? Setahuku di rumah ini tidak ada kantong seperti itu?” gumamku sendiri. Lama aku berpikir tetapi karena tetap tidak menemukan idea pa-apa maka aku mencari apa pun yang berbentuk kantong yang terdapat dalam rumahku sampai akhirnya aku menemukan kantong plastik yang teronggok di depan boneka kucing maka aku pun mengambilnya dan didalamnya terdapat secarik kertas yang bertuliskan Sesuatu berkode yang kamu lihat setiap pagi di meja makan, dengan agak bingung aku mencoba memutar otak mencari apakah sesuatu itu, untuk menghilangkan penat aku mencoba berjalan-jalan ke sekeliling rumah hingga akhirnya ketika aku melintasi meja makan aku mengingat sesuatu, yaitu hari ketika aku biasa sarapan pagi dimana biasanya aku melihat tas Papa yang terbuat dari kulit berwarna hitam mengkilat yang mempunyai pengunci berwarna tembaga maka, tanpa membuang waktu lagi aku berlari ke kamar Papa dan mencari tas Papa yang biasa di bawa ke kantor begitu menemukannya aku pun mencoba membukanya dan ternyata tas itu tidak bisa ku buka tetapi aku menemukan selembar kertas lagi yang bertuliskan Bukumu ada di dalam.
Dan seperti itulah ceritanya sampai aku berada di keadaan ini, yang aku tidak habis pikir ternyata adikku lebih pintar dari tampangnya dan selisih umur satu tahun dariku ternyata tidak membuat dia lebih bodoh dari aku, betapa bodohnya aku yang meremehkan kemampuannya, karena terlalu sibuk mengutak-atik kode di tas Papa aku tidak sadar bahwa ini sudah pukul 17:00 maka begitu melihat jam dengan bergegas-gegas aku langsung mengambil air wudhu dan melakukan sholat asar.
Selepas sholat aku mulai berpikir lagi jika aku saja tidak tahu kode pembuka tas papa mana mungkin dia tahu berapa kode pembuka tas papa, dengan segera aku mencari adikku, ternyata selama ini dia bersembunyi di rumah temannya yang bernama Antra begitu menemui adikku aku langsung berkata “Dik, dimana bukuku?””Bukannya sudah aku tulis kalau bukumu ada di dalam tas Papa!”serunya dengan lantang. “Tidak mungkin ada di dalam tas Papa! Kamu kan tidak tahu kodenya?!”tantangku padanya. “Kodenya 476” jawabnya singkat, langsung aku coba membukanya dengan kode itu, hal itu ternyata berhasil membuka tasku dan begitu terbuka ternyata di dalamnya memang benar terdapat buku matematikaku. Dengan agak malu aku akhirnya mengakui kesalahanku dan minta maaf kepadanya “Maafkan aku ya Dik, ternyata kamu memang lebih pintar daripadaku dan aku mengaku bersalah tadi pagi sudah memarahimu.””Tidak apa-apa Kak, aku sebenarnya juga salah karena tadi aku sudah terlalu egois memaksakan kehendakku dan aku minta maaf karena selama ini telah banyak menyusahkanmu.” Aku pun segera menggenggam tanganya dan kami bersalaman serta berpelukan berdua.