AeRohawK

Flying away…

Pragmatisme dan/atau Idealisme?

1 Comment

Saat ini fenomena mahasiswa yang pragmatis sudah menjadi hal umum yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Sudah hampir tidak ada mahasiswa yang benar-benar menjaga idealismenya sebagai seorang “maha” pelajar yang mampu berpikir kritis, tegas, dan lugas tanpa mau dikendalikan oleh tuhan dunia (uang, nilai, dan kekuasaan).

Hampir di setiap ujian kita lihat ada saja mahasiswa yang mencontek hanya demi sebuah jawaban. Koran-koran juga meberitakan mahasiswa mencuri motor temannya sendiri-lah, mencuri helm di parkiran-lah, atau menjadi ayam kampus. Selain itu, ada pula mahasiswa yang rela bermulut manis di depan dosen hanya agar dipercaya menjadi asdos yang mampu mengendalikan nasib adik angkatannya.

Semua itu tidak lepas dari paham pragmatisme yang ditanamkan sejak dini, bahkan sejak kanak-kanak. Ingatkah ketika dahulu di masa kita kecil permainan bukan soal menang kalah tetapi soal kesenangan?! Sekarang, permainan tidak lebih dari sekedar menang dan kalah dengan memencet tuts joystick yang ada di modul game. Apalagi gamegame FPS (First Person Shooter) dimana kita hanya bisa membunuh untuk menang. Masa remaja, apalagi itu, banyak sekali fitnah di masa ini terutama dari guru-guru yang hanya fokus pada nilai, bukan pada proses. Ingatkah kalian, bahwa nilailah yang menentukan peringkat kita? Dan nilai itu didapatkan dari ujian yang sering kita mencontek.. Duh, betapa hancurnya dunia ini.

Tentu, masih segar dalam ingatan kita bagaimana Sukarno, Hatta, Sultan Syahrir, Hamengkubuwono IX, dan para tetua bangsa ini merumuskan PANCASILA. Didalam sila-sila itu tertuang idealisme bangsa ini, yaitu Ketuhanan yang MAHA ESA, Kemanusiaan yang ADIL dan BERADAB, PerSATUan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kekuasaan dalam PERMUSYAWARATAN perwakilan, dan KEADILAN SOSIAL bagi SELURUH RAKYAT Indonesia. Begitu besar idealisme bangsa ini untuk mengeluarkan rakyat dari keterpurukan akibat penjajahan Belanda dan Jepang.

Belanda dengan kolonialisme ala barat mengajarkan kita bahwa dengan menjajah orang lain kita bisa hidup bahagia bergelimang harta. Di situ mereka mengajari kita untuk bersenang-senang di atas derita orang lain sekaligus mengeruk kekayaan dari orang-orang bodoh. Mereka pun akhirnya dikalahkan oleh segerombolan orang “kate” yang bahkan lebih pendek dan buruk rupa dari mereka.

350 tahun terjajah oleh Belanda, hingga pada akhirnya kita dibebaskan oleh saudara kita yaitu Jepang. Jepang benar-benar menganggap kita sebagai saudara sehingga saat penajajahan mereka kita diajarkan untuk bekerja jauh lebih keras dan lebih kejam bahkan daripada saat kita berada di bawah tangan Belanda. Tetapi, saat kita bekerja mereka tidak berpesta seperti Belanda, mereka bersiap untuk menghadapi gempuran dari negara-negara barat walaupun kenyataannya mereka akhirnya kalah.

Dua penjajah di atas telah membentuk kepribadian leluhur kita untuk berpikir kembali tentang hidup ini. Mereka tidak lagi berpikir pragmatis bahwa kita pasti kalah jika melawan negara-negara Barat, karena kenyataannya Jepang dapat memenangkan pertempuran dengan Barat. Selain itu, janji Jepang pula lah yang mampu melambungkan angan pendiri bangsa bahwa kita bisa menjadi negara yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Sehingga, bangsa ini pun akhirnya bangun dan memilih merdeka berjuang demi idealisme mereka dan melawan pragmatisme sempit.

Image

Setelah penajajahan berakhir, idealisme kita  pada awalnya tetap bertahan walaupun hanya sampai tahun 60-an. Ketika saat itu terjadi kelaparan masal yang kemudian terjadi pemberontakan PKI yang menyebabkan ribuan nyawa warga Indonesia menghilang. Tumbang masa Bung Karno, muncul masa Pak Harto. Saat masa ini bangsa kita menjadi bangsa pragmatis yang sangat memuja uang. Semua sumber daya alam dijual kepada pihak asing, termasuk tambang emas dan minyak yang seharusnya dikelola negara untuk kepentingan rakyat. Akhirnya kabinet super korup yang bertahan lebih dari 40 tahun itu pun tumbang, dan digantikan era reformasi yang sayangnya tidak lebih baik. Semua diukur dengan uang tanpa adanya kasih sayang dan cinta kasih pada manusia.

Namun, bencana yang menimpa kita akhirnya mampu menyadarkan kita semua. Sisi pragmatisme kita yang hanya bersahabat saat ada uang sirna seketika. Idealisme membahana, sehingga banyak orang yang menjadi relawan dan menolong tanpa pamrih. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya dipertahankan terus. Sehingga mereka tidak hanya muncul caat bencana, muncul di setiap saat untuk mengisi hari-hari kita. Seuai dengan semangat PANCASILA bangsa ini.

Nah disinilah ECC UGM berperan, ECC UGM berperan untuk mendidik putra-putra bangsa agar tidak jatuh ke dalam kemunafikan dan kebodohan uang. Namun, mahasiswa harus mampu berdiri di atas idealismenya untuk berjuang demi rakyat Indonesia yang benar-benar mewujudkan cita-cita pembukaan UUD 1945 yaitu rakyat yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Maka dari itu, wahai saudaraku pemuda, mari KITA bangkit dan pertahankan idealisme kita. Pertahankan PANCASILA kita, untuk dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik dan lebih cerah dari hari ini.

artikel ini dibuat untuk mengikuti kompetisi blog yang diselenggarakan oleh ECC UGM.

Advertisements

Author: A.R. Kurnia

Seorang mahasiswa S-1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Memiliki cita-cita untuk menjadi seorang menteri kesehatan pada tahun 2034 lagi. -aamiin-

One thought on “Pragmatisme dan/atau Idealisme?

  1. temanku yg suka nyontek pada lulus , sy yg jujur tdk lulus. berarti jg hrs belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s